Hujan deras yang mengguyur Kota Bandar Lampung sejak Selasa sore hingga malam berujung pada banjir yang merendam permukiman dan jalan-jalan utama. Air dengan cepat menggenangi rumah warga, sebagian mencapai setinggi dada orang dewasa, membuat puluhan keluarga terjebak tanpa sempat menyelamatkan banyak barang. Dalam situasi genting itu, tim SAR gabungan bersama Basarnas bergerak mengevakuasi warga yang terperangkap banjir. Total 109 jiwa berhasil diselamatkan dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman setelah operasi penyelamatan yang berlangsung hingga dini hari.
Tim penyelamat menerima laporan dari sejumlah titik rawan banjir, salah satunya di kawasan Jalan Abimanyu, Kelurahan Jagabaya I, Kecamatan Way Halim, yang dilaporkan mengalami kenaikan air cukup cepat. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim rescue diberangkatkan pada malam hari dengan perahu karet dan perlengkapan keselamatan lengkap. Setibanya di lokasi, petugas harus bergerak dari rumah ke rumah, mengevakuasi warga yang sebagian besar merupakan anak-anak, lansia, dan perempuan. Di tengah terbatasnya penerangan dan derasnya arus, upaya mereka menjadi penentu antara selamat atau tidaknya warga yang terjebak. Dalam konteks penanganan bencana modern, transparansi dan kejelasan prosedur semestinya seterang standar informasi yang mulai menjadi kebiasaan di berbagai layanan digital, seperti penjelasan rinci hak dan kewajiban pengguna yang bisa ditemukan pada halaman kebijakan privasi di platform seperti Rajapoker Situs.
Operasi evakuasi 109 warga ini bukan pekerjaan singkat. Tim SAR gabungan bekerja berjam-jam di tengah malam, memindahkan warga secara bertahap ke titik kumpul sementara. Anak-anak diprioritaskan, diikuti para lansia dan warga yang sakit. Banyak di antara mereka yang meninggalkan rumah hanya dengan pakaian di badan, tanpa sempat menyelamatkan dokumen penting atau barang berharga. Bagi keluarga yang sudah berkali-kali mengalami banjir, peristiwa kali ini bukan sekadar bencana alam, tetapi pengingat pahit bahwa kota tempat mereka tinggal belum serius menyelesaikan akar masalah banjir.
Meski curah hujan tinggi sering disebut sebagai penyebab utama, kenyataannya banjir di Bandar Lampung bukan fenomena baru apalagi sepenuhnya “tak terduga”. Berulang kali, kawasan yang sama terendam setiap hujan lebat datang. Ini menunjukkan adanya persoalan struktural: sistem drainase yang buruk, saluran air yang tersumbat sampah, alih fungsi lahan resapan menjadi permukiman atau bangunan komersial, serta minimnya pengendalian tata ruang. Ketika hujan deras turun, air tidak punya cukup ruang untuk meresap atau mengalir dengan cepat, sehingga memilih jalan pintas melalui rumah-rumah warga dan jalan utama kota.
Dari sisi tata kelola, banjir yang berulang seharusnya memicu evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan penataan kota. Pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi “mengapa banjir?”, melainkan “mengapa dari tahun ke tahun titik banjirnya sama dan polanya tidak berubah?”. Setiap proyek drainase, normalisasi sungai, dan pelebaran saluran air yang diklaim telah dilakukan pemerintah harus diuji efektivitasnya di lapangan, bukan hanya lewat laporan atau peresmian. Jika banjir tetap datang dengan intensitas dan lokasi yang serupa, itu tanda bahwa intervensi yang dilakukan belum menyentuh akar persoalan.
Di sisi lain, warga juga tidak boleh terus-menerus diposisikan hanya sebagai korban pasif. Perilaku membuang sampah sembarangan ke sungai dan selokan, membangun di bantaran tanpa memperhatikan alur air, serta menutup lahan kosong dengan beton tanpa mempertimbangkan resapan, adalah bagian dari masalah. Namun menuntut perubahan perilaku warga tanpa menyediakan layanan dasar—seperti pengelolaan sampah yang layak, penegakan aturan bangunan yang konsisten, dan ruang hijau yang cukup—sama saja menyalahkan korban tanpa memberi alat untuk memperbaiki keadaan.
Dari perspektif kebencanaan, evakuasi 109 warga ini menunjukkan bahwa kapasitas respons darurat sudah relatif terbangun, tetapi sistem peringatan dini dan mitigasi masih tertinggal. Idealnya, data historis banjir digunakan untuk memetakan zona risiko tinggi, memasang sistem peringatan, dan menyusun prosedur evakuasi yang diketahui warga sebelum bencana datang. Edukasi berkala mengenai jalur evakuasi, titik kumpul, dan nomor darurat sangat penting, terutama bagi warga yang tinggal di daerah langganan banjir. Tanpa itu, setiap hujan lebat akan selalu berujung pada kepanikan mendadak dan operasi penyelamatan yang berpacu dengan waktu.
Banjir di Bandar Lampung juga harus dilihat dalam konteks perubahan iklim yang membuat pola hujan makin sulit diprediksi dan intensitasnya makin ekstrem. Kota-kota pesisir seperti Bandar Lampung berada di garis depan dampak gabungan curah hujan tinggi, kenaikan permukaan laut, dan penurunan muka tanah akibat pembangunan dan pengambilan air tanah yang berlebihan. Artinya, solusi jangka panjang tidak bisa hanya mengandalkan drainase yang lebih besar atau pompa yang lebih banyak, tetapi memerlukan penyesuaian menyeluruh terhadap cara kita merencanakan kota dan membangun infrastruktur.
Pada akhirnya, fakta bahwa 109 warga harus dievakuasi di tengah malam seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah kota dan provinsi. Operasi SAR yang sukses menyelamatkan nyawa patut diapresiasi, tetapi keberhasilan itu tidak boleh menjadi selimut yang menutupi kegagalan mencegah bencana sejak awal. Warga berhak menuntut lebih dari sekadar bantuan logistik dan selimut setelah banjir; mereka berhak atas kota yang direncanakan dengan serius, di mana hujan deras bukan lagi sinonim dari malam mencekam dan rumah tergenang air.